Well, kali ini aku ga akan ngebahas tentang Nanda lagi, tapi kali ini tentang teman-teman yang amat sangat kusayangi. Sejujurnya, baru selama kuliah ini aku mendapatkan teman-teman yang sangat baik dan jujur saja aku sangat menyayangi mereka juga bergantung kepada mereka. Kenapa kali ini aku membahas mereka karena aku merasa aku kehilangan mereka satu per satu. Dan rasa kehilangan itu amat sangat menyakitkan untukku.
Waktu semester dua, aku pernah mendapatkan firasat buruk. Firasatku mengatakan bahwa semua teman-temanku akan menjauh, tapi aku tak tahu kapan dan mengapa juga siapa.
"Menurut kalian, kita masih bisa tetep bareng-bareng kaya gini ga?"
Sebuah pertanyaan yang cukup polos terlontarkan begitu saja dari mulutku. Aku masih sangat ingat saat itu aku, Jaja, Aiwa, Diah, Wahyu, Nanda, Mei dan juga Eka sedang makan malam di 50:50. Mereka semua langsung melihatku dengan bingung.
"Kamu ngomong apa sih, Sei? kita pasti tetep ngumpul lah."
Aku tidak ingat siapa yang berkata seperti itu. Aku langsung menundukkan kepalaku. Firasat ini terlalu kuat untuk sekedar sesaat. Aku benar-benar merasa akan kehilangan mereka semua.
"Tapi, kita udah jarang bareng kan sekarang? pasti nanti semua pada mencar terus ga pernah bareng langi." lanjutku masih tetap tertunduk.
"Biasanya yang ngomong kaya gini yang ngejauhin duluan, loh."
Aku masih ingat bahwa itu Jaja yang berbicara sambil menepuk pundakku yang disertai dengan anggukan setuju dari yang lainnya. Aku hanya bisa tersenyum dengan terpaksa dan setelah itu mereka berjanji untuk terus bermain bersama tanpa ada yang berpencar.
Setelah semester tiga, firasatku menjadi kenyataan. Teman-temanku mulai berpencar. Aku akui jadwal kita semua berbeda, tapi walaupun kita memiliki jadwal yang sama para anak cowok terkesan menghindari bahkan menjauhi para anak cewek. Kupikir hanya aku yang merasa, tapi ternyata Mei dan Aiwa juga merasa. Ada apa? apa kita melakukan suatu kesalahan sehingga dijauhi seperti ini? mereka benar-benar menjauhi kami.
Lalu, semua semakin terasa semenjak seorang cewek sebut saja namanya Anu yang tiba-tiba dekat dengan mereka. Awalnya, Yoga memperkenalkannya kepada anak-anak cowok kelas A dulu dan taraaaaa~ dia deket beneran sama mereka termasuk Nanda. Bahkan Nanda sekarang bisa tertawa lepas dan terlihat benar-benar akrab sama dia.
Iri? Jealous? ya! aku akui aku iri dan jealous sama dia! aku merasa dia mengambil posisiku di antara para anak cowok itu. Kenapa? apa karena dia mirip denganku? atau karena dia lebih feminim dariku? aku akui aku benar-benar merasa kehilangan sosok beberapa teman yang kusayangi. Aku benci kenapa harus seperti ini? aku tahu masih ada Bibil, Mei, Aiwa, Eka, Andrian, Dimas, Retno dan yang lainnya yang tidak berubah sama sekali. Tapi, ini tidak adil! aku tidak bisa menerima semua ini! kenap harus dia yang mengambil teman-temanku? kenapa firasatku menjadi nyata? kenapa semua ini bisa terjadi?
Aku menulis ini dengan air mata yang mengalir tanpa aku perintahkan. Aku sebisa mungkin menahan tangisku karena ada Eka yang sedang menginap di kamarku. Tapi, sekuat aku mencoba menahan ternyata percuma. Semakin aku tahan, semakin sakit aku rasakan.
To All of My Dearest 'Partai Inti'
Please, don't leave me like this. Don't you know i love you so much. You're the best friends ever i have in my life. You're my second family in this town. You're my light when my whole world become so dark. You're my everything and i don't want to lose you. Please, i beg you all to come back. I miss you so much.
@imseina
Jika semua orang ibarat berbagai macam bunga, maka bunga itu tidak hanya memiliki satu warna saja. Dan aku pasti merasa sedang berada di sebuah ladang bunga yang luas dan dikelilingi berbagai macam bunga yang indah. Walaupun banyak bunga yang lebih indah, entah bagaimana aku hanya melihat dan memperhatikan satu bunga yang belum berkembang dengan sempurna dan sangat kecil. Bunga yang masih putih namun bisa berubah menjadi hitam jika aku tak merawatnya dengan baik. Seperti itulah dirimu di mataku, maka dari itu aku akan menjagamu dari kejauhan karena tidak baik juga jika aku menjagamu dari dekat. Aku tak ingin menghalangi sinar matahari agar kamu bisa tetap tumbuh besar.Aku tak ingin menghalangi hujan yang turun agar kamu semakin subur. Namun, jika badai datang aku siap untuk melindungimu dari dekat. Tak akan pernah kubiarkan kamu hancur hanya karena badai itu. Aku melakukan semua itu karena kamu adalah bunga yang berbeda di mataku. Bunga yang suatu saat nanti akan menjadi sangat indah mengalahkan semua bunga yang ada.
@imseina
Dari judulnya aja udah keliatan galo dan aku yakin temen-temenku tau siapa orang yang dimaksud disini. Ya, siapa lagi kalo bukan sebut saja Nanda dan itu bukan nama samaran loh. Entah bagaimana aku memutukan untuk memilih jalan seperti ini saat salah seorang temanku, Wahyu mengatakan sesuatu.
"Kasian banget si Seina, 1 setengah tahun masa ga move on."
Dua kalimat itu jujur saja sangat menohok. Lalu dilanjutkan lagi.
"Buat apa selalu bareng kalo endingnya jauh-jauhan kaya gini?"
Fine. Kalimat itu semakin membuat penyesalanku bertambah. Dan aku hanya bisa menendang-nendang kakinya seperti yang biasa aku lakukan. Jujur aja saat itu aku seharusnya bisa saja menangis, tapi entah bagaimana aku tidak bisa padahal aku berharap aku bisa menangis meraung-raung sampai mataku bengkak.
Saat perjalanan pulang, pikiranku terus melayang kesana-kemari. Melihat kamar kosku yang dulu malah semakin membuat hatiku miris. Aku akui separuh jiwaku masih tertinggal di kamar itu. Kamar 1.04 Kos Umbul Putri. Semua kenangan tersimpan dengan baik, rapi dan mulus disana. Bukankah aku pindah kosan untuk memulai semua yang baru? bukankah aku harus melupakan semua itu?
Setelah aku berpikir keras sampai tertidur dan terbangun lagi, saat itulah aku memutuskan untuk tetap bertahan. Tetap bertahan meyukainya namu tak akan mengharapkan balasan darinya karena menurutku hanya menyukainya dari kejauhan itu sudah cukup untukku. Mungkin aku munafik, tapi ya itu yang paling aku inginkan saat ini. Aku akan tetap seperti ini. Aku akan tetap menunggunya sampai akhirnya aku akan move on dengan seiring berjalannya waktu. Aku tidak peduli mau ia menyukaiku atau tidak yang pasti aku akan tetap seperti ini dan aku akan menerima semua ini sebagai hukumanku karena mengabaikannya dulu. Mungkin aku tak pantas untuknya dan sangat aku sadari itu karena dia amat sangat sabar menghadapiku maka dari itu aku tak akan mengharapkan ia untuk membalas perasaanku ini.
Seperti kata Yoga dan Andrian "気づいたら片想い" atau "When I Realized, My Love was Unrequited"
Terimakasih, Nanda. Kamu mengajarkan aku cara menyukai seseorang dengan setulus hati tanpa peduli ia buruk atau tidak.
@imseina